Tentang Produksi Pabrik Gula di Indonesia

5 (100%) 5 votes

Indonesia saat ini memiliki 63 pabrik gula yang dimiliki oleh 18 perusahaan. Sebagian besar pabrik-pabrik ini sudah tua karena kurangnya investasi dan memiliki tingkat produktivitas yang rendah. Pabrik-pabrik gula di negara itu memiliki total kapasitas 245.900 TCD atau rata-rata 3900 TCD per pabrik dengan rendemen 7,1%.

Konsumsi gula Indonesia dalam segmen ritel konsumen adalah 3 juta ton per tahun, sementara produksi gula nasional hanya sekitar 2,5–3,0 juta ton per tahun yang mengakibatkan kekurangan 300–500.000 ton gula. Banyak masalah terus menghantui industri gula Indonesia, mulai dari pabrik yang menua, berkurangnya ladang tebu, kurangnya varietas yang baik, inefisiensi pertanian, adopsi teknologi yang buruk, lambatnya diversifikasi produk dan produktivitas yang rendah hingga banjir gula impor murah karena miskin peraturan pasar.

Kurangnya dukungan R&D yang memadai untuk industri juga merupakan salah satu alasan rendahnya produktivitas, pemulihan gula dan hilangnya efisiensi teknis. Tantangan gula impor murah ke Indonesia berfungsi untuk menyoroti skala permintaan komoditas yang menempatkan Indonesia di antara pembeli terbesar di dunia berdasarkan volume, khususnya dari sektor manufaktur makanan dan minuman negara.

PROSPEK PABRIK GULA

Prospek cerah untuk investasi di industri gula nasional terbukti dari meningkatnya minat sektor swasta untuk berinvestasi di sektor ini. Selain itu, pemerintah juga berencana untuk merevitalisasi unit gula yang ada, memperluas area tebu dan menyiapkan beberapa unit gula baru bekerja sama dengan sektor swasta untuk merealisasikan rencana swasembada.

Petani tebu memiliki peran penting dalam memasok bahan baku untuk produksi gula tetapi mereka menghadapi masalah dalam penurunan produktivitas tebu dan kurangnya lahan subur yang tersedia. Studi di Indonesia hanya meneliti satu aspek produksi gula di Indonesia, seperti pabrik gula, kebijakan perdagangan , petani, optimisasi penggunaan lahan, produksi bioetanol, dan petani tebu. Artikel ini memberikan pandangan terhadap produksi tebu di Indonesia

Baca Juga  Teknologi Informasi Untuk Bisnis

KENDALA PABRIK GULA di INDONESIA

Masalah dalam produksi gula di Indonesia meliputi penurunan luas lahan tebu, inefisiensi pertanian, kurangnya varietas yang baik, produktivitas rendah, dan pabrik gula yang tidak efisien dan menua. Dengan demikian, pencapaian target swasembada gula nasional tidak dapat dipisahkan dari perencanaan ekstensifikasi lahan dan target produksi gula.

Untuk mencapai produksi tambahan 3,4 juta ton GKP, berdasarkan produktivitas gula kristal 6,5-7,0 ton per hektar, diperlukan ekspansi sekitar 500.000 hektar. Masalah dalam produksi gula di Indonesia meliputi penurunan luas lahan tebu, inefisiensi pertanian, kurangnya varietas yang baik, produktivitas rendah, dan pabrik gula yang tidak efisien dan menua. Dengan demikian, pencapaian target swasembada gula nasional tidak dapat dipisahkan dari perencanaan ekstensifikasi lahan dan target produksi gula

POPULASI GLOBAL

Dengan meningkatnya populasi global, pada tahun 2050 kita perlu menggandakan produksi tanaman untuk memberi makan populasi yang tumbuh. Di Indonesia, peningkatan populasi berpenghasilan menengah menyebabkan perubahan struktural dalam diet dari makanan pokok yang kaya karbohidrat (beras, akar, dan umbi-umbian) menjadi minyak nabati, produk hewani (daging dan makanan susu), dan gula. Indonesia menganggap gula sebagai komoditas penting dalam forum negosiasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), bersama dengan beras, jagung, dan kedelai. Dengan tujuan memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan mata pencaharian di daerah pedesaan, Indonesia perlu meningkatkan produksi pertanian domestiknya.

GULA SEBAGAI KOMODITAS PENTING

 

Gula adalah salah satu komoditas target penting. Permintaan gula mentah untuk makanan dan minuman meningkat di Indonesia; 6,32 juta ton gula dikonsumsi di Indonesia pada tahun 2017, dengan peningkatan permintaan 6% pada tahun 2018. Dengan pertumbuhan populasi tahunan sebesar 1,3%, pertumbuhan konsumsi gula rata-rata 4,3% per tahun sejak 2008. Permintaan gula yang besar ini telah menciptakan kesenjangan besar antara produksi dan permintaan gula. Sebagai akibatnya, Indonesia menjadi importir gula terbesar di dunia pada 2017-2018 pada 4,45 juta ton. Karena gula diklasifikasikan sebagai komoditas penting, Pemerintah Indonesia telah mencoba untuk mengatasi masalah ini melalui program pembangunan nasional.

Baca Juga  Teknologi Informasi Untuk Bisnis

Program Percepatan Produksi Gula dan Produktivitas Produktivitas 2003–2008 didirikan pada tahun 2003. Pada tahun 2006, program ini diperbarui menjadi Road Map untuk Swasembada Gula Nasional 2006–2009 dan dilanjutkan dengan Road Map untuk Produksi Gula 2010–2014, tempat produksi dan konsumsi ditargetkan untuk keseimbangan sebesar 3,1 juta ton per tahun. Namun, konsumsi semakin meningkat dan target produksi belum tercapai, karena kesulitan dalam memperoleh lahan baru untuk budidaya dan kendala dalam menerapkan program revitalisasi pabrik gula.

Produksi gula dan tebu memiliki peran penting dalam ekonomi pedesaan melalui pendapatan pertanian, menyediakan lapangan kerja, dan mendukung ekonomi pedesaan. Untuk mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan pendapatan petani, tantangannya adalah bagaimana menemukan metode yang paling efektif untuk meningkatkan produksi gula nasional, tanpa ada atau sedikitnya perpindahan petani kecil. Petani tebu memiliki peran penting dalam memasok bahan baku untuk produksi gula, tetapi mereka menghadapi masalah dalam meningkatkan produktivitas tebu dan kurangnya lahan subur yang tersedia. Studi di Indonesia hanya meneliti satu aspek produksi gula di Indonesia, seperti pabrik gula, kebijakan perdagangan, petani, optimalisasi penggunaan lahan, produksi bioetanol, dan petani tebu.

 

 

 

 

 

 

https://rambutputih.com/

Reply